Perjalanan Panjang In-Docs

Menceritakan perjalanan panjang In-Docs seperti merefleksikan kembali cerita tentang demokrasi di Indonesia. Perjalanannya paralel dan tidak bisa dipisahkan dari satu sama lain.

Awal Mula In-Docs

Ceritanya dimulai saat Indonesia memasuki babak baru demokrasi tahun 1998. Saat itu anak muda ingin mengambil bagian dari reformasi dan mencari medium yang lebih baik dan lebih canggih untuk mengekspresikan diri mereka untuk menunjukkan semangat dan juga pemikiran kritis, kreativitas, inovasi, dan posisi politik yang tegas.

Itulah cikal bakal pembentukan Yayasan Masyarakat Mandiri FIlm Indonesia. Yayasan ini bertujuan untuk mengembangkan bakat baru dan mendukung kebebasan berekspresi melalui medium film. In-Docs lahir sebagai program di tahun 2002. In-Docs adalah tempat berkumpul dan bertukarnya ide, keterampilan, dan mimpi-mimpi di dalam komunitas film, untuk menyukseskan pembuatan film dokumenter di Indonesia.

Beragam orang dari berbagai macam komunitas film dan institusi pendidikan bergabung ke aktivitas-aktivitasnya untuk berjejaring, belajar, berkolaborasi, dan berbagi karya dengan satu sama lain. Beberapa program yang dikurasi oleh In-Docs adalah Development Lab, In-Docs Abroad, Junior Camp, Mapping, Screen Docs. Program-program ini awalnya bertujuan untuk menumbuhkan talenta-talenta di generasi muda dan membangun infrastruktur agar komunitas film terbangun. Junior Camp contohnya, mengundang anak SMA untuk berkemah selama satu minggu di pulau dan membuat film dokumenter. Mereka juga pergi untuk mengumpulkan film-film dokumenter di berbagai universitas seluruh Indonesia untuk diputar di festival, mengirimkan filmmaker Indonesia ke luar negeri untuk belajar filmmaking, mengundang filmmaker luar untuk membagikan ilmu mereka ke orang Indonesia, dan banyak kegiatan lain.

Tentu banyak tantangan yang dihadapi, terutama dalam mengajarkan teknik filmmaking kepada komunitas lokal. Kamera adalah barang mewah di zaman itu, hanya dimiliki oleh orang-orang berpunya. Namun tidak ada yang mengalahkan antusiasme untuk terus belajar. Makin banyak orang tertarik untuk bergabung dengan program In-Docs, dan secara perlahan, program-programnya berkembang. In-Docs mulai melebarkan kolaborasinya dengan berbagai pihak, termasuk stasiun TV nasional. Di tahun 2005, In-Docs dan Metro TV memandu Eagle Awards, kompetisi penulisan naskah untuk film dokumenter. Lima pemenang terpilih diberikan dana untuk menyelesaikan film dokumenter mereka dan filmnya ditayangkan di Metro TV. Program ini disambut dengan hangat oleh pemirsa, tidak hanya dari partisipan dan komunitas film, tetapi juga dari publik.

Empat Pilar

Masih banyak lagi inovasi yang diusulkan dan dijalankan selama 2004-2011. Di antaranya adalah kolaborasi antara peneliti dan filmmaker. Seiring dengan proses demokrasi yang mulai beranjak dewasa, globalisasi juga mulai mempercepat kolaborasi. Namun, baru di tahun 2012 In-Docs mendapatkan momentum ini untuk berkembang dan mencapai audiens yang lebih luas untuk mempromosikan misinya.

Jaringan In-Docs yang kuat di komunitas di Asia bermula dari kolaborasi dengan Doc-Net. Dalam program andalan kami Dare to Dream Asia, yang diorganisir di tahun 2015, In-Docs mengumpulkan 9 proyek film dokumenter dari negara-negara Asia yang memberikan suara dan mimpi dari pemuda Asia dan membawa proyek mereka ke macam-macam film festival internasional, seperti IDFA dan DOK Leipzig. Program ini menelurkan program lain yang sukses, yaitu Docs By The Sea, berkolaborasi dengan Bekraf. Melalui Docs By The Sea, para filmmaker diberikan panggung untuk pitch ide mereka di depan pelaku industri film internasional untuk mendapatkan dana dan dukungan untuk proyek mereka. Kami juga berkolaborasi dengan organisas film internasional lain seperti Doc Society untuk mengkurasi program lain seperti Good Pitch Indonesia sebagai bagian dari International Good Pitch Network, dan IF/Then Southeast Asia dengan Tribeca Film Institute.

Kami sadar bahwa struktur yang solid diperlukan untuk berkembang lebih lanjut. Setelah proses berdiskusi yang panjang dan meninjau ulang program-program kami yang terdahulu, kami belajar bahwa pekerjaan kami dibangun dari prinsip-prinsip yang khusus, dan kami memutuskan untuk menguatkan keempat pilar tersebut.

Pilar Cultivate memungkinkan In-Docs untuk menjalankan proyek dokumenter yang inovatif dan memikat dari bakat dan suara yang ada di Indonesia dan luar Indonesia. Pilar Connect memungkinkan proyek dokumenter terbaik untuk dihubungkan dengan pihak-pihak yang memberikan dukungan seperti dana, distribusi, dan juga partner yang berpotensi untuk memperluas jangkauan dan dampak dari dokumenter tersebut. Pilar Share memberikan akses untuk audiens untuk menonton dan mendiskusikan film yang membangun kesadaran sosial, politik, dan ekologi, untuk membangun anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Sedangkan pilar Learn menunjukkan keinginan untuk terus belajar dan bertambah baik, dan menyemangati penonton untuk merangkul proses belajar sebagai sesuatu yang penting dan memberdayakan.

Bagaimana Sekarang?

Dalam perjalanannya, kami telah memuliakan dan merayakan pembuatan film dokumenter sehingga film-film tersebut dapat memperoleh pengakuan tertinggi dari festival film internasional yang disegani. Globalisasi mempermudah ini semua, tetapi tentu saja ada biaya yang dihabiskan. Ketika demokrasi mulai matang, tantangan baru mulai muncul. Teknologi menjadi begitu maju, dan sementara itu, ruang untuk berkreasi, menyebarluaskan, dan mendiskusikan ekspresi kritis yang memungkinkan masyarakat untuk membayangkan masa depan yang lebih baik perlahan menyusut.

Seiring dengan In-Docs yang beroperasi full sejak 2019, kami pun sampai ke titik refleksi lagi. Sudahkah kita mencapai apa yang kita inginkan di awal? Dan seberapa jauh posisi kita sekarang dari misi awal?

Film dokumenter telah menemukan tempatnya di masyarakat. Ia akhirnya menerima apresiasi yang sama dengan rekannya, film-film fiksi. Film — terutama dokumenter, menangkap esensi dalam kehidupan kita sehari-hari yang mungkin luput dari perhatian kita, dan seperti banyak produk kanonisasi lainnya, film dokumenter secara eksplisit dan implisit mengungkapkan sistem yang rumit yang menggerakkan mesin kehidupan ekonomi, politik, dan sosial kita; kekuatan magis warisan masa lalu kita yang menjiwai hidup kita, dan kekuatan alam yang mungkin tidak kita sadari ada karena sifatnya yang duniawi. Film harus menjadi jendela untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana orang lain hidup dan merasa. Melalui film, kita tidak hanya melihat cerita baru, tetapi juga mempelajari pengetahuan kognitif tentang bagaimana kehidupan bekerja untuk orang lain.

Film dokumenter harus hadir tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk dialog. Ia harus memperkenalkan gagasan tentang dampak seperti apa yang ingin dicapai oleh masyarakat. Dan sebagai bentuk dialog yang terjalin, ia juga harus mendorong penonton untuk mempertanyakan sesuatu dan berpikir kritis, dan menciptakan koneksi sosial. Melalui film, kami menyatukan berbagai komunitas, memicu percakapan tentang topik yang sulit, dan menciptakan budaya keterbukaan.

Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan signifikan pada cara hidup kita, termasuk cara kita menggunakan hak-hak kita. Di seluruh dunia, demokrasi menghadapi tantangan karena pemerintah membatasi hak-hak warga negara untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Dengan kurangnya ruang untuk berkumpul, inilah saatnya untuk memperkenalkan pendekatan baru untuk mencapai tujuan kami.

Pada tahun 2021 dan seterusnya, tim In-Docs akan aktif menjangkau komunitas dan sekolah untuk berbagi ide-ide yang telah ditangkap oleh pembuat film dalam karya mereka. Kami berharap kami dapat menciptakan lebih banyak ruang digital untuk mendorong lebih banyak diskusi tentang ide-ide dan mimpi-mimpi. Sudah menjadi tujuan kami untuk mengundang khalayak yang lebih luas untuk memanfaatkan film dokumenter sebagai alat untuk menjalankan peran kita dalam demokrasi. Dan tidak ada waktu yang lebih tepat untuk melakukannya selain sekarang.

BACA JUGA

How Far I'll Go

Dampak Film Sejauh Kumelangkah

In this article, we will share the story about the impact factor of the film How Far I’ll Go and how it inspires viewers to…